Penempatan TKI ke Eropa, Australia, Selandia Baru, Kanada & AS kenapa  begitu sulit?

 

 

Sementara tidak sedikit  sekali WNI yang ternyata dapat  bekerja dan tinggal  di negara dan kawasan, laksana  yang saya tulis di judul di atas. Lalu bagaimana mereka dapat  masuk ke sana?

 

Sebagian besar mereka ialah  yang sebelumnya menempuh edukasi  di sana kemudian  menetap. Atau mereka menemukan  PR sebab  keilmuan atau sebab  kekayaan.

 

Atau mereka yang berstatus masih pelajar atau bahkan mereka dari kelompok  yang tak terlampau  mempedulikan legalitas dokumen. Jadi turis lalu justeru  melamar kerja.

 

Sementara kami PJTKI/PPTKIS hanya dapat  menempatan TKI melulu  dengan visa kerja. Tak lebih.

 

Diantara kami tidak sedikit  yang telah  berupaya. Tapi usaha penempatan ke sana sama sekali tak menguntungkan. Penempatan tak bisa tidak sedikit  dan masal. Kalau penempatan yang dapat  dilakukan guna  di bawah sepuluh orang misalnya, ongkos  akan paling  tinggi. Padahal menurut  keterangan dari  pengalaman teman-teman saya sesama PJTKI/PPTKIS di lapangan, tidak jarang  sekali dari 10 approval melulu  1-2 yang diloloskan kedutaan negara-negara yang saya sebut di atas. Atau tidak sama sekali. Kesimpulannya, Eropa, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Amerika Serikat enggan  menerima TKI dalam jumlah besar. Kalau dapat  hampir tentu  bukan guna  jatah negara kita.

 

Di samping  itu, pesan saya untuk  Anda yang S1 lagipula  di bidang exact laksana  teknik dan kesehatan, tidak boleh  sekali-sekali tergiur guna  bekerja di negara-negara itu  dengan posisi low skill laksana  menjadi pekerja serabutan, pemetik buah, pencuci piring di restoran dan sejenisnya walau  gaji yang ditawarkan terlihat  menggiurkan. Bukan apa-apa, bila   Anda tidak berkarir cocok  bidang kemudian  kebablasan bertahun-tahun bekerja sebagai tenaga low skill di AS misalnya, kita  akan susah  lagi diterima guna  berkarir di bidang yang cocok  dengan latar pendidikan.

 

Tak sekali dua kali saya ditemui  pelamar kerja semacam ini. Insinyur tapi justeru  jadi buruh di AS. Lalu saat kembali  ke Indonesia tak terdapat  yang inginkan  terima. Usia telah  40an. Perusahaan di Indonesia takkan inginkan  memberi lokasi  fresh graduate buat umur  semacam itu. Pihak luar negeri yang sekitar  ini lebih akomodatif. laksana  Qatar misalnya, takkan mau pun  menerima insinyur mesin tapi empiris  di gudang sebagai operator forklift di Amerika Serikat.

 

Karena tersebut  bila kita  punya edukasi  memadai, konsentrasi  pada bidang Anda. Tak usah tergiur dengan tawaran kegiatan  low skill di Australia misalnya. Kecuali bila   Anda tak lagi bercita-cita   pada kesarjanaan Anda.