Bursa Global Rebound di Akhir Pekan

Posted on

hargajualgenset.club – Bursa saham global rebound di akhir pekan perdagangan ini. Satu hari setelah merosot tajam, yang dipicu oleh melonjaknya kekhawatirankekhawatiran ekonomi, utamanya tentang kenaikan suku bunga acuan di AS. Wall Street menguat pada bel pembukaan perdagangan Jumat (12/10). Indeks Dow Jones naik 1,6%. Indeks S&P 500 naik 1,2% dan indeks Nasdaq melonjak 2,6%. Bursa saham Asia juga menikmati gain kuat. Indeks saham Hong Kong ditutup melonjak 2,1%.

Sedangkan Shanghai ditutup naik 0,9% dan Tokyo ditutup naik 0,5%. Bursa saham Eropa juga mengikuti kenaikan di Asia. Indeks saham utama Frankfurt dan Paris masing-masing naik 0,8% dan London menguat 0,7% karena para investor melakukan beli di harga murah. Walau pun langkah ini dipandang berisiko di tengah gejolak ekonomi global.

Sementara itu, nilai tukar dolar AS memulih terhadap euro dan yen. Sedangkan harga kontrak minyak mentah juga naik lagi. “Saham-saham AS bangkit secara solid di awal perdagangan, setelah anjlok dua sesi sebelumnya akibat meluasnya kekhawatiran terhadap laju rally imbal hasil Treasury telah merembet ke pasar global,” kata para analis dari Charles Schwab. Walau begitu, rebound saham ini masih parsial. Dow Jones pada Kamis (11/10) ditutup anjlok 2,1% sehingga selama dua sesi merosot 1.300 poin dan ditutup ke level terendah dalam dua bulan. “Aksi jual brutal yang mendera saham global pekan ini terhenti pada Jumat, karena sentimen risiko sedikit membaik di seluruh pasar finansial,” ujar Lukman Otunuga, analis dari FXTM.

Ia menambahkan, data positif perdagangan Tiongkok dan rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan puncak G-20 bulan depan telah menambah sentimen positif. Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) AS Steven Mnuchin mengatakan pada Jumat, bahwa kondisi perekonomian AS tetap kuat dan kemerosotan pasar saham pada pekan ini hanya lah koreksi alami. Dalam wawancara dengan CNBC, Mnuchin mengungkapkan bahwa pasar cenderung bergerak terlalu jauh di kedua arah, sehingga perlu ada koreksi.

Namun, dia menyebutkan bahwa itu adalah hal yang baik karena Wall Street siap rebound pada Jumat dan itu terbukti. Mnuchin mengatakan ini di sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Bali, Indonesia. Kalangan investor terus mencermati musim laporan keuangan korporasi, mengingat bank-bank besar membukukan hasil kuartalan positif pada Jumat pagi. Menurut para analis, hasil laba kuartal III dapat mengungkapkan sejauh mana kemungkinan konflik perdagangan AS-Tiongkok telah menganggu perolehan laba.

Hasil transaksi perdagangan prapasar menunjukkan peningkatan bagi saham JP Morgan Chase, PNC Financial, Microsoft dan Intel. Tetap Menghormati Mnuchin bahkan menepis kekhawatiran terkait serangan Trump yang dilancarkan berulang kali dan agresif terhadap The Federal Reserve (The Fed), pekan ini. Dia menyatakan bahwa Trump masih tetap menghormati independensi The Fed. Sebelumnya, presiden ke-45 AS tersebut menyebut The Fed gila dan terlalu agresif dalam menaikkan tingkat suku bunga.

Dia menuding bank sentral AS sebagai pihak yang harus disalahkan karena menyebabkan pasar saham merosot. “Terlihat jelas bahwa presiden menyukai tingkat suku bunga rendah. Saya pikir itu yang menjadi permasalahannya.Saya pikir fundamental masih sangat kuat. Ekonomi AS kuat, pendapatan AS kuat. Jadi saya melihat ini sebagai koreksi alami setelah pasar naik banyak,” ujar Mnuchin. Ia juga menambahkan bahwa Gubernur The Fed Jerome Powell telah melakukan tugasnya dengan hebat. “Saya pikir fundamental masih sangat kuat. Ekonomi AS kuat, pendapatan AS kuat.

Jadi saya melihat ini sebagai koreksi alami setelah pasar naik banyak.” Powell sendiri sebelumnya telah mengabaikan cemooh Trump. Ia berkata bahwa independensi politik ada dalam DNA para gubernur bank sentral. Meskipun Trump melancarkan serangan terhadap bank sentral, para ekonom menyampaikan bahwa dengan angka pengangguran di level terendah dalam 48 tahun dan penciptaan lapangan pekerjaan bulanan yang stabil maka The Fed kemungkinan akan mengikuti arah kenaikan tingkat suku bunga saat ini dengan kenaikan keempat kali yang diprediksi pada Desember 2018, disusul dengan tiga atau empat kali kenaikan pada 2019.

Sedangkan, beberapa pembuat kebijakan The Fed yang pada Januari mengambil giliran sebagai anggota voting dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) – yang bertugas menetapkan tingkat suku bunga – telah mulai mengirimkan sinyal-sinyal yang lebih hawkish, yang berarti menempatkan mereka semakin bertentangan dengan kebijakan-kebijakan Trump.